HALIYORA.COM

CEPAT & AKURAT

Kisah Pilu Karyawan yang Di-PHK Imbas Pandemi Covid-19

Ternate Haliyora.com

Dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia dan juga khususnya di Provinsi Maluku Utara, telah melumpuhkan hampir seluruh sektor perekonomian. Akibatnya, sejumlah pelaku usaha dengan terpaksa mengistirahatkan (baca: merumahkan) sebagian karyawannya bahkan ada yang di-PHK (diberhentikan) dengan atau tanpa pesangon.


Penelusuran Haliyora.com untuk di Kota Ternate saja, sejumlah pelaku usaha pun melakukan hal yang sama. Terpaksa menghentikan aktivitas dan imbasnya karyawan mereka dirumahkan.

Salim, salah satu karyawan mengalami hal itu. Saat ditemui Haliyora.com, ia mengakui dirumahkan dari tempat kerja mereka bersama beberapa temannya. Memiliki istri dan punya satu anak, Salim bersama keluarga tinggal di kelurahan Takoma, tepatnya samping kiri eks kantor PT Barito.

“Saya termasuk tujuh orang yang dirumahkan,” ungkap Salim mengawali ceritanya di sebuah rumah papan sempit bekas mes pekerja bangunan.

Awalnya, Salim yang bekerja sebagai pelayan di sebuah mall ternama di Kota Ternate, bersama rekannya mereka dirumahkan selama empat bulan. Gaji pokok dipotong tinggal 30 persen. Itupun belum dibayar sampai sekarang. 

“Kalau dibayar pun, dengan potongan sebesar itu, saya tidak bisa menutupi kebutuhan keluarga,” ujarnya terenyuh.

Setelah dirumahkan, demi menafkahi keluarganya, Salim beralih menjadi tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. “Untuk mencari uang makan, sekarang ini saya baojek,” tuturnya salim.

Dengan hasil ojek yang tidak seberapa ditambah susah mendapat penumpang, tentunya belum mencukupi kebutuhan pokok yang mahal. “Sehari paling dapat Rp 30-40 ribu. Padahal harga kebutuhan sehari-hari sudah mahal,” keluhnya.

Toh, sepeda motor yang dipakai untuk ngojek pun juga masih cicil. “Tiap bulan harus bayar cicilannya mencapai ratusan ribu,” lanjut Salim.

Untuk menutupi cicilan, Salim bahkan terpaksa menjual televisi untuk bayar cicilan motor karena mengharapkan gaji yang sudah dipotong itu belum juga dibayar. “Dijanjikan akan dibayar pada 5 Mei, tapi hingga kini belum juga dibayarkan,” papasnya.

Yang menyedihkan, katanya lagi, dirinya mendapat sms dari pimpinannya, bahwa gaji sudah tidak bisa dibayarkan lagi karena tidak ada uang. “Membaca sms itu saya menangis, karena saya sangat mengharapkan gaji itu untuk persiapan bayar zakat,” keluhnya.

meski sedang ditimpa kesulitan, Salim bertekad tidak lagi berharap dengan gaji yang sudah tidak seberapa itu. “Sekarang ini saya pasrah saja. Dan berdoa mudah-mudahan Allah memberikan rejeki lewat jalan lain. Dan mudah-mudahan wabah virus corona ini cepat selesai,” pungkasnya.

Demikian sekelumit cerita Salim, karyawan mall yang dirumahkan bersama enam karyawan lainnya. Mungkin saja masih banyak Salim-salim lain diluar sana yang juga mengalami hal yang sama di tengah deraan virus berbahaya ini. (Viko)

Tinggalkan Komentar

Terbaru

error: Content is protected !!