HALIYORA.COM

CEPAT & AKURAT

Dilema Penjual Kamplang Di Tengah Pandemi Covid-19

Ibu Rusna Penjual Kamplang (foto : Asbar/Haliyora.com)

Labuha, Haliyora.com

Ibu Rusna duduk termangu menatap puluhan kantong plastik putih ukuran besar berisi kamplang, rapih berjejeran di depannya. Dua bocah di sampingnya juga terlihat bisu. Raut kelelahan nampak di wajahnya yang tak muda lagi.

Wanita yang sering disapa ibu Una itu sedang menunggui jualannya di pasar Mandaong, Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan.

Ada dua produk andalan ibu Una. Kamplang dan ikan Teri (ngafi, red). Kamplang adalah krupuk ikan, produk asli Bacan.

Dan di hari itu, tepatnya Senin sore (22/06/2020) mungkin hari yang cukup berat dirasakan ibu Una. “Kamplang ini baru satu orang beli setengah kilo tadi, kalau ngafi belum ada yang beli,”ungkap ibu Una saat berbincang dengan Haliyora.com.

Katanya, harga kamplang yang ia jual seharga Rp 40 ribu per kilo. Tapi bisa dibeli setengah kilo. Sedangkan ikan teri (Ngafi) harganya 60 ribu per kilo, juga bisa dibeli setengah kilo.

Ia menuturkan, setiap hari mulai membuka jualannya pukul 06.00-17.00. “Tiap hari saya bajual mulai jam enam pagi sampe jam lima sore baru pulang. Kadang-kadang, so dengar mangaji di masjid dekat magrib baru pulang,” ujarnya.

Katanya lagi, sebelum ada Corona, dalam sehari kamplangnya bisa laku hingga 10 kilo, begitu pula ngafi, bisa terjual tiga sampai empat kilo.

Biasanya, pembeli kebanyakan dari orang luar yang datang ke Bacan. Tapi karena masa Corona, sudah tidak ada orang dari daerah lain datang ke Bacan.

“Jadi pembeli so kurang skali. Kan yang banya beli kamplang ini kan orang pendatang dari daerah lain yang beli untuk bawa, untuk ole-ole ka, dong pe tamang pasang ka. Tapi pas ada Corona ini, orang luar so tara datang di Bacan. Apa lagi pemerintah batasi kapal masong bagini. Makanya so tiga bulan kamari ini keadaan pasar bagini suda, sepi. Kadang-kadang dalam satu hari tarada orang beli. Macam hari ini, baru satu orang beli kita pe kamplang stengah kilo. Jadi satu hari ni cuma dapa 20 ribu ni,” tutur Ibu Una sedih.

Ibu Una adalah orang tua tunggal. Ia ditinggal mati suaminya lima tahun lalu. Ia sendirian berjuang membesarkan dua orang anaknya yang kini duduk di bangku SMA dan SMP.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan pendidikan kedua anaknya, ibu Una hanya mengandalkan jualan kamplang dan Ngafi.

“Tong hanya bajual kamplang deng ngafi ini untuk tong pe makang denga ana-ana pe uang sekolah. Jadi kalau keadaan bagini turus tong rasa berat skali. Mudah-mudahan Corona ini capat habis la tong pe mancari ini me bajalan macang dulu lagi,” harap ibu Una.(Asbar)

Tinggalkan Komentar

Terbaru

error: Content is protected !!